Pages

Subscribe:

Kicaun Suara Hati

Muhammad Ali Murtadlo

Selasa, 04 September 2012

Mendamba Jalan Lurus


Angka-angkaku tak lagi bisa dihitung
Hilang menyamar menjadi patung
Patung-Patung tinggi yang membumbung
Menjadi sebuah onggokan Gunung

Huruf-Hurufku tak lagi mampu dieja
Membias merasuk dalam jiwa
Jiwa-jiwa hampa seorang hamba
Mengharap akan kasih sayang Tuhannya

Kata-kataku tak lagi kuasa berbisik
Tertahan oleh lidah yang tergigit
Bersama mulut yang bungkam
Kesakitan menahan penderitaan

Hanya airmata yang mampu mengalir
Jatuh berlinang membasahi pori-pori nadir
Berharap akan menjadi butiran mutiara
Yang elok, indah dan mempesona

Entahlah,
Aku tak faham
Biarkan Tuhan saja yang mengurus
Aku hanya pribadi kurus
Yang setiap angin berhembus
Tubuhku laksana kardus
Kardus-kardus Hina yang mendamba jalan lurus

Surabaya, 04 September 2012 M

Jumat, 17 Agustus 2012

Kemerdekaan Pancasila

Dalam lesu kumemandang ke sudut tembok-tembok yang elok
Terpampang wajah garang garuda berselimut perisai
Dengan bulu-bulu emas lentik nan ngarai
Yang gagah bak bodyguard mengintai tanpa permisi

Ada Bintang, yang temaram sebagai simbol ketuhanan yang Maha esa
Rantai terhubung yang menyatakan kemanusiaan yang adil dan beradab
Beringin melambangkan persatuan tak terpisahkan
Banteng sebagai tanda kerakyatan dengan asas permusyawaratan
Serta pasangan padi kapas yang menyimbolkan keadilan

Namun waktu itu tetap setia
Mengiringi perjuangan bangsa yang justru tak mampu dewasa
Hingga kokohnya perisai jadi goyang diterjang badai berkecamuk
Bintangpun tak lagi temaram, redup karena sibuk mempermasalahkan Tuhan
Rantai itu ikut terputus, tergerus oleh tikus-tikus rakus
Apalagi beringin, daunnya rontok diterjang angin
kepala banteng dengan tanduk garang itu
Geleng-geleng menyaksikan berbagai kisruh di parlemen
Padi dan kapaspun tertunduk lemas
Ternyata keadilan diujung kebobrokan
Ironis kan???

Momen kemerdekaan ini aku hanya Berharap
Bangsa ini akan lebih bermartabat !

Surabaya, 17 Agustus 2012 M