Pages

Subscribe:

Kicaun Suara Hati

Muhammad Ali Murtadlo

Jumat, 07 September 2012

Saat Ini

Malam yang terus menggelap
Menjadi hitam dan pekat
Merasuk dalam jiwa yang hampir sesat
Mengarungi hidup tanpa sekat
Antara kebenaran sejati dan kepentingan sesaat
Yang terus bergejolak hingga kiamat

Saat ini,
Aku masih membuka mata
Mata hati, mata kepala
Serta mata-mata lainnya
Tertunduk dalam lautan asmara
Yang semakin hari semakin penuh misteri

Saat ini,
Aku masih sanggup duduk manis
Menikmati segala kisah romantis
Yang semakin hari semakin terkikis
Oleh gelombang kemunafikan amis
Menjelma menjadi sebuah sajian praktis
Entahlah,
Aku hanya mampu pegang pelipis
Pelipis hina yang selalu lupa akan kasih sayang tuhannya.

Surabaya, 07 September 2012 M

Kamis, 06 September 2012

Lepas Sudah

Rintihan luka dalam belanga
Untaian keangkuhan kekerdilan jiwa
Noda dalam pergaulan antarmanusia
Duduk dalam kemacetan angan-angan
Berbaring dalam kesesatan keyakinan
Tengkurap dalam kesalahan pilihan
Aku berontak dengan memandang cakrawala

Jari-jari waktu menggamitku
Aku menyimak kepada arus angin
Suara bising agak mereda
Lagu margasatwa agak mereda
Indahnya ketenangan turun meluncur ke hatiku
Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.

Surabaya, 06 September 2012 M

Sajak Masa Lalu


Rasanya aku ingin mengulang masa lalu
Bersama, bercengkrama bersama teman dulu
Mengukir perjalanan hidup yang terus bergulir
Meninggalkan detik demi detik
yang terukir menjadi sebuah kenangan

Saat di sungai bergurau
Saat di latar bermain gundu
Saat di sawah mengibarkan layang-layang
Saat berburu burung ketika musim hujan
Ah, momen itu serasa membekas dalam bayangan
Menjadi sebuah kisah tanpa catatan

Entahlah,
Biar itu menjadi bahan nostalgia
Ketika aku beranjak tua
Bersama orang-orang yang kusayangi
Bersama orang-orang istimewa

Ingin sekali kusampaikan
Kepada angin, kepada hujan
dan kepada siapapun makhluk Tuhan
Aku Rindu masa - masa itu
Aku Rindu saat saat bersamamu

Kawan,
Masih basahkah embun pagi di sawahmu?
Entahlah, Mungkin masih atau mungkin sudah raib diguyur hujan
Kawan,
Masih hangatkah mentari pagi menyinari jendela kamarmu?
Aku pun tak tau, mungkin masih mungkin pula hilang
Menjadi terik seiring datangnya siang
Masih adakah tumpukan kenang-kenangan yang bersamaku dulu kita ciptakan?
Aku juga tak tau, mudah-mudahan masih meskipun hanya berupa senyuman.

Selasa, 04 September 2012

Merenungi Hidup

Mengertilah,
Hdup laksana komedi putar,
mengadu peruntungan,
brakhir dg kmatian.

Hidup bak ombak lautan,
kadang pasang kdang surut,
brakhr pda gelombang kmatian.

Hdup seperti roda,
kadang diatas kadang dibwah,
brhnti pda kmatian.

Hidup bagaikan awan,
kadang mendung kadang cerah,
brakhir menjdi arwah.

Hidup bagai musim,
kdang kemarau kadang hujan,
brujung pula pda kmatian.

Kmatianlah yg kita tunggu.
Menanti dlm kpastian.
Menjdi mayat menju alam akhirat.

Berharap Pada Ketidakmampuan

Mata ini terlanjur kaku
Meratapi  jiwa-jiwa yang selalu kosong
Melompong bagai tong-tong nyaring tak berpenghuni
Tak secuil kasih tersampaikan
Entah esok entah nanti mungkin lusa
Atau tak pernah sama sekali.

Hanya raga yang mampu menahan
Namun perasaan tak bisa dikibuli
Melawan kepahitan yang enggan enyah dari hati
Menerobos batas-batas tak terjaga
Laksana kota mati tak ada penjaga

Waktu itu terus berdentum
Jarum jampun saling kejar
Berlomba untuk lebih dulu berhenti
Bak sirkuit serpong yang jadi gelagat-gelagat rally

Hingga tak terasa mata ini terlalu cengeng
Mengeluarkan salju kesedihan tak berkesudahan
Mungkinkah Kasih itu tak akan sampai
Atau bahkan dating bertubi-tubi
Ah, ternyata semua itu hanya mimpi

Al-Ikhlas, 18 Mei 2012 M. Tengah Malam

Suara Hati Ibuku

Nak, kejarlah Mimpimu kelak kau akan jadi mulia
Raihlah cita-citamu kelak kau akan bahagia
Nomor duakanlah cinta karena akan merusak suasana
Usaha, doa, semangat, tekad patrilah dalam jiwa
Disini ibu memberimu stimulus agar perjalananmu selalu mulus

Nak, lupakanlah masa lalu yang sengsara bersamaku
Mengais rizki bersama domba-domba lucu yang setia menemani
Andaikan dulu ibu mampu
Tak usahlah kau ikut berjibaku dengan lumpur –lumpur
Memikul penderitaan keluarga dengan kerja paruh waktu

Nak, kau kini sudah besar
Tahu mana salah mana benar
Mengerti  mana sempit mana yang lebar
Tentu kau juga paham
aku membesarkanmu penuh perjuangan
maka melupakanku adalah sebuah kenistaan

Mulai kini kau dirantau
Meninggalkan kelamnya masa lalu
Menuju peraduan mengumpulkan pundi-pundi ilmu

Bangunlah niatmu untuk masa depanmu nak,
Jangan hiraukan aral
Meskipu melintang hajar ia dengan senyuman
Yakinlah nak, jalan menuju kesuksesanmu terbuka lebar

Surabaya, 19 Mei 2012 M

Renungan Malam

Malam ini tak ubahnya malam-malam kemarin
sepi, sunyi tak ada suara
nyaman untuk menyendiri

diri ini bermandikan lelah, resah
menantikan terjadi apa kira-kira esok
apakah lebih baik
atau justru terbalik

aku masih tetap bersikukuh
memimpikan cita-cita lewat do'a
menabur kasih lewat semesta
menyerukan do'a-do'a harapan
lewat sejenak renungan

diri ini semakin jauh terbawa alam
fikiran semakin bergelantungan
menyatu tanpa ada sekat
bersenggama dengan jiwa-jiwa mati
yang terbunuh oleh keegoisan tanpa jeda

hari memang berjalan tanpa henti
namun hati tak selamanya berpenghuni

Al-ikhlas, 18 Juni 2012

Ramadlan Agung

Sepi, menyendiri, menyegarkan hati
Merangkul rahmat ilahi
Menengadah berharap belas kasih
Bersama kunang-kunang keimanan
Yang kerlap-kerlip, entah menunggu padam atau justru temaram

Rona taqwa ini selalu berharap akan terjunjung
Di bulan yang tersanjung
Ramadlan yang agung
Ramadlan bulan ampun
Penuh khidmat dari sang penuntun

Inilah masa kita untuk berjelaga
Menyelami hakikat hidup sebenarnya
Hidup sejati, yang akhirnya mati
Menuju pengharibaan ilahi

Mulut hanya mampu berdo’a
Hati meyakinkan betapa maha kuasanya Tuhan
Mungkinkah terlaksana?
Mudah-mudahan,
Karena Tuhan maha mengabulkan.
 Surabaya, 07 Agustus 2012

Catatan "Kelam"

Hampa tak terasa
menerbitkan rasa dalam cinta
untuk mengarungi bahtera hidup yang menganga

rasa itu telah padam tertiup ego
terlibas emosi akan keterpurukan
yang meluap bak ombak bersahutan
tak mengenal arah dan tujuan

mungkin itu hanya gurauan
namun terkesan kenyataan
menjadi sebuah catatan kelam
menjadi sebuah kenangan

Biarkan itu terjadi
aku nggak akan mengelak
aku nggak akan berontak
mungkin takdir tuhan memang begini
menakdirkan aku terus mencari
mencari kebenaran yang haqiqi

Surabaya, 15 Agustus 2012 M

Menunggu Pagi

Malam itu Hitam, pekat dan kelam
waktu untuk memperbarui iman
waktu untuk mengusir setan
Setan-setan Keangkuhan


Malam itu istimewa, elok dan mulia
Waktu untuk mengistirahatkan raga
Waktu untuk mencharger Nyawa
Nyawa ''Ketuhanan'' yang hilang entah kemana

Malam itu rahmah, indah, penuh berkah
waktu untuk mencangkok arwah
waktu untuk merazia serakah
membuangnya di tempat sampah

Malam itu gelap, sepi, sunyi
waktu untuk menghisab diri
waktu untuk bersuci
Merengguh kasih Ilahi

Malam itu.................
waktu untuk menunggu pagi.

Surabaya, 17 Agustus 2012 M

Ketupat Lebaran


Hari-Hari itu berlalu tak terasa
Menerobos momen-momen mulia
Menyebrangi lautan ampunan
Melewati Jembatan Pembelajaran
Bulan kemuliaan, Ramadlan namanya

Kini dia telah pergi
Meninggalkan jiwa-jiwa suci
Menyisakan kerinduan yang berarti
Entah akan kembali
Atau akan benar-benar pergi

Saat ini saat yang tepat untuk introspeksi
Menilai diri
Apakah jiwa kita telah suci
Suci dari sifat iri, dengki
Atau justru kembali kotor
Penuh dengan sifat koruptor

Sepertinya, Momen ini momen yang tepat
Momen untuk membuat ketupat
Ketupat lebaran
Saling bermaaf-maafan

Bogor, 18 Agustus 2012 M

Idul Fitri

I= Ini waktu untuk mengintrospeksi diri
D= Dalam sebulan penuh kita telah berpuasa
U= Untuk mencapai derajat taqwa
L= Lillahi Ta'ala

F= Fikiran mari kita instal ulang
I= Intiusi mari kita isi ulang
T= Tawadlu' mari kita praktekan
R= Rasa iri mari kita singkirkan
I= Ini merupakan waktu yang tepat untuk saling MEMAAFKAN.

Bojonegoro, 18 Agustus 2012 M

Kembali,

Kembali merangkul senyum
Senyum-senyum Kebahagiaan
yang setapak demi setapak lenyap
Terbawa arus kesedihan

Kembali merajut Tangis
Tangis-tangis penyesalan
yang sejengkal demi sejengkal hilang
Melangkah bersama Keangkuhan

Kembali merenda kasih
Kasih-kasih sayang
yang sedetik demi sedetik memudar
Membias laksana kabut-kabut beterbangan

Hidup bagi orang awam
Adalah Kembali
Kembali mengharap Kasih Sayang iLahi.

Surabaya, 30 Agustus 2012 M

Tuhan, Jika,,,

Tuhan, jika Engkau izinkan
ku ingin hidup bersama embun
embun embun kebahagiaan
yang setiap malam jatuh
menggerimisi alam

Tuhan, jika Engkau Meridloi
Ku ingin tidur bersama setan
Setan-setan keangkuhan
yang setiap hari perang
melawan kearifan

Tuhan, Jika Engkau bolehkan
Ku ingin bernyanyi bersama burung
Burung-burung hantu
yang setiap waktu berkicau
melantunkan syukur kepada-Mu

Tuhan, jika Engkau Mau
Ku Ingin berjelaga bersama-Mu
Mengarungi arti Hidup
Hidup sementara yang penuh Misteri.

Surabaya, 30 Agustus 2012 M

Musnah

Kabut putih itu kian memudar
Mengalami degradasi
Berbaur dengan kabut asap
Asap asap kotor penuh Polusi

Embun pagi itu terus menguap
Terusir oleh sinar mentari
Mentari penuh energi
Energi yang tak terbeli

Awan itu semakin membumbung
Menggumpal diterjang angin
Angin-angin laut
Tanpa ada yang meniup

Sadarkah?
Kabut putih, Embun Pagi, Awan
itu hanya makhluk Tuhan
Yang akan musnah mengalami kehancuran.

Surabaya, 30 Agustus 2012 M

Menyimpan Memori, Mengenang Masa Lalu


Kawan,,!
Mungkin kini kau lupa
Saat-saat kita bersama
Merajut mimpi mengarungi asa
Bersama dalam canda
Bersama dalam duka

Kawan,,!
Mungkin dulu kau khilaf
Saat-saat kita bersama
Merangkai Ilmu mengintip dunia
Bersama mengembara
Bersama kita berjelaga

Kawan,,!
Aku tak menafikan keberadaanmu
Aku tak akan memformat memoriku
Karena memoriku penuh dengan kenangan
Kenangan-kenangan indah penuh makna
Tertulis rapi di buku Harian

Kawan,,!
Meski ku tak lagi melihatmu
Namun nama-namamu terukir selalu
Terukir dalam di sanubari
Merelief dalam hati

Kawan,,!
Waktu akan terus berlalu
Meninggalkan masa-masa dulu
Menuju masa-masa kini
Meraih masa-masa nanti
Menuju peraduan
Bercengkrama bersama Tuhan

kawan,,!
Sebelum masa itu datang menghampiri
Mensucikan hati perlu kita jalani
Memperbarui iman harus kita lalui
Bersama merungkuh Kasih Ilahi.

Ku masih teringat, kawan,,!
Saat kau berucap kata
berbisik di dekat telinga
dalam hening kau berkata
"Raga Boleh jauh tapi Hati tetap Berpeluh"

Surabaya, 30 Agustus 2012 M

Lupa

Berdiri Tegak tanpa sandaran
Inilah yang kerap ku khawatirkan
Meniti hidup tanpa pijakan
Membawa nyawa tanpa keyakinan

Hidup memang asyik
Asyik untuk berisik
Asyik untuk berbisik
Sampai Asyik untuk saling mengusik

Saking asyiknya ku sering lupa
Lupa dengan tugas utama
Lupa dengan Pencipta
Menghamba pada Tuhan Esa

Surabaya, 2 September 2012 M

Biarlah

Rasa ini tak lagi bisa merasa
Merasakan sesuatu yang sebenarnya
Terbentur asa yang kian melangit
Membumbung tak bisa terbendung
Bersama mimpi-mimpi yang terus terdoktrin
Menjadi sebuah pemantik
Pemantik-Pemantik spirit
Untuk tetap berdiri meski banyak duri
Untuk tetap melangkah meski susah payah
Untuk tetap berjalan meski banyak hambatan
Untuk tetap berlari kencang sekencangnya
Mengejar ambisi, mencari arti, menyusun ilusi
Menata Hati agar bebas dari belenggu kematian

Hati ini sudah tak lagi berintuisi
Membias bersama ilusi-ilusi
Yang semakin hari semakin tak punya arti
Meniupkan roh cinta pun tak kuasa
Apalagi mengartikan nyawa  setia
Tak mampu, sungguh tak akan kuasa
Karna Cinta sejati hanya milik Yang Maha Esa
Karna kesetiaan Haqiqi pun milik-Nya
Tanpa diminta dan tak ada tandingannya

Biarlah,
Biar semua berlalu
Toh, Hidup di sini hanya sekali
Sementara tujuan utama adalah mengabdi
Mengabdi menjadi Hamba-Hamba yang berarti

Surabaya, 03 Sept 2012 M

Teka-Teki Penuh Misteri

Mengarungi asa mengejar cita
Bersama para pendamba akan kesuksesan
Menuju peradaban baru tanpa kemelaratan

Menyelami samudra mimpi
Berharap akan terealisasi
Menjadi sebuah kenyataan yang manis tanpa ada kepahitan

Merenangi misteri kehidupan
Yang kadang di belakang kadang di depan
Penuh tanda tanya dan tak ada jawaban

ya, beginilah hidup
Laksana teka-teki silang yang sulit untuk di isi
Butuh ekstra energi
untuk melengkapi
Potongan-potongan misteri
Skenario Tuhan Robul Izati

Surabaya, 04 September 2012 M

Mendamba Jalan Lurus


Angka-angkaku tak lagi bisa dihitung
Hilang menyamar menjadi patung
Patung-Patung tinggi yang membumbung
Menjadi sebuah onggokan Gunung

Huruf-Hurufku tak lagi mampu dieja
Membias merasuk dalam jiwa
Jiwa-jiwa hampa seorang hamba
Mengharap akan kasih sayang Tuhannya

Kata-kataku tak lagi kuasa berbisik
Tertahan oleh lidah yang tergigit
Bersama mulut yang bungkam
Kesakitan menahan penderitaan

Hanya airmata yang mampu mengalir
Jatuh berlinang membasahi pori-pori nadir
Berharap akan menjadi butiran mutiara
Yang elok, indah dan mempesona

Entahlah,
Aku tak faham
Biarkan Tuhan saja yang mengurus
Aku hanya pribadi kurus
Yang setiap angin berhembus
Tubuhku laksana kardus
Kardus-kardus Hina yang mendamba jalan lurus

Surabaya, 04 September 2012 M